ditulis oleh Zulfaningsih HS

Siang itu, kami duduk bersama Ibu Nawi di kolong rumahnya, mengingat kembali kapan terakhir kali dia mengambil kalli-kalli — sudah beberapa bulan, katanya, sejak kaki terakhir menginjak petak itu.

Sesi wawancara bersama warga Kuri Caddi di kolong rumah panggung (Foto: Ade Saskia Ramadani)

“Lama-lama ma ini, ndak pernah ka ambil daun kalli-kalli,” katanya. Kalli-kalli adalah nama lokal untuk Acanthus, tumbuhan mangrove berdaun berduri yang oleh warga Kuri Caddi diolah menjadi teh herbal.

Ibu Nawi mengaku usianya enam puluh tahun, meski raut dan langkahnya tampak lebih tua dari itu. Yang pasti, dia sudah tidak sanggup lagi berjalan sejauh dulu.

“Jauh mi, dan tidak ada kendaraan,” katanya, mengenang jalan yang dulu biasa dia tempuh — tanpa nada mengeluh, hanya fakta yang sudah lama dia terima sebagai bagian dari pekerjaan. Dulu, sejauh apapun jalannya, dia tetap berangkat, sebab di ujung empang itu menunggu empat lembar daun pucuk kalli-kalli — bagian paling muda dari tanaman itu, bukan daun-daun tua di bagian bawah —  dipotong durinya satu per satu, dicuci tiga kali, dijemur sampai rapuh, digunting kecil-kecil, diblender, lalu dibungkus menjadi teh yang dijualnya lima belas ribu rupiah sebungkus. Sehari kerja, satu karung daun — hasilnya dua puluh sampai tiga puluh bungkus teh kalli-kalli.

Pekerjaan itu sudah dia jalani selama empat tahun terakhir, di kampung tempat dia tinggal: Dusun Kuri Caddi, salah satu dari empat dusun di Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, yang garis pantainya langsung berhadapan dengan Selat Makassar — sekitar 30 kilometer, atau 40 menit berkendara, dari pusat Kota Makassar. Bisa juga ditempuh lewat laut, naik perahu dari Pelabuhan Untia, sekitar 20 menit menuju Kuri Caddi.

Jalan setapak menuju permukiman Kuri Caddi

Nama Kuri Caddi punya cerita sendiri. Menurut cerita yang masih dihafal warga, seorang Karaeng dari Butung bernama Abubaedah datang kesini pada 1954 untuk berdagang. Saat itu hanya ada tujuh gubuk bambu beratap tedde’, berdiri di tanah yang terlindung dari angin laut. Abubaedah menikahi seorang gadis setempat, menetap, lalu menamai kampung itu Kuri Caddi “tempat yang terlindungi”. Sebuah nama yang, tujuh dekade kemudian, terasa seperti doa yang terus diuji oleh alam.

Uji itu tercatat rapi dalam memori kolektif warga: gerhana matahari tiga hari yang menghentikan hidup mereka di era 1980-an, banjir rob yang mencapai tiga puluh sentimeter pada 2006, hancurnya dermaga oleh ombak besar pada 2016, hingga rangkaian abrasi yang merenggut rumah warga pada 2023 dan menumbangkan pohon-pohon besar pada 2025. Di antara semua bencana itu, satu benang merah selalu muncul: hutan bakau, atau bangko dalam bahasa Makassar, yang oleh warga dipahami bukan sekadar rimbunan pohon, melainkan penjaga yang berdiri paling depan menahan ombak, menahan panas, dan menahan laut agar tidak menelan kampung mereka.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah mangrove penting — warga Kuri Caddi sudah lama tahu jawabannya, jauh sebelum kata “ekosistem” masuk ke telinga mereka. Pertanyaan yang lebih jujur, dan lebih menohok, adalah: kalau semua orang di sini sudah tahu, mengapa abrasi tetap datang setiap tahun, mengapa dermaga tetap runtuh, mengapa rumah tetap rusak?

Bahwa warga tahu, tidak perlu diragukan. Bangko, kalau ditebang, kata Ibu Nawi, akan membuat orang marah. Ia berbicara dalam bahasa akibat: kepiting kehilangan tempat bertelur, panas menjadi lebih menyengat di siang hari, dan ombak yang dulu tertahan kini punya jalan lebih pendek untuk sampai ke pekarangan rumah. Ilmu pengetahuan menyebutnya jasa ekosistem. Ibu Nawi menyebutnya, sesederhana itu, akibat.

Jawaban atas pertanyaan tadi — mengapa abrasi tetap datang meski warga sudah tahu bahayanya — mulai terlihat dari data Blue Forest, yang memetakan kondisi lahan Kuri Caddi bersama warga satu per satu. Di kawasan daratan dan permukiman, 40 persen lahan sudah mengalami abrasi. Di sepanjang sempadan pantai, angkanya melonjak jadi 70 persen. Wilayah pasang surut, tempat tambak dan mangrove tumbuh berdampingan, mencatat abrasi tinggi di porsi yang sama besarnya. Warga menyebut sejumlah masalah lain yang menumpuk di sana: sampah kiriman dari laut, cuaca yang makin tidak menentu, dan pengambilan pasir yang dilakukan diam-diam, tanpa izin.

Anehnya, di tengah kerusakan itu, ada satu hal yang justru membaik: hutan mangrove itu sendiri. Kawasan mangrove Kuri Caddi yang dulu tipis dan terganggu, kini tumbuh lebat dan rapat, hasil dari rehabilitasi bertahun-tahun. Tapi kabar baik ini punya bayangan yang tidak sederhana. Hasil tangkapan ikan, rajungan, dan kerang di perairan sekitarnya justru menurun dibanding sebelum tahun 1990-an. Bukan karena mangrove yang kurang — warga sendiri yang menyebut sebabnya: alat tangkap yang makin tidak ramah, dan batu karang yang makin rusak dari tahun ke tahun.

Citra udara Kuri Caddi, 2010 (Foto : Blue Forest)

Citra udara Kuri Caddi, 2024 — luasan mangrove di sisi tenggara tampak lebih rapat dibanding 2010 (Foto : Blue Forest)

Ritme hidup warga Kuri Caddi mengikuti dua kalender yang tidak pernah berhenti berputar. Ada kalender ladang: padi ditanam sekali setahun, mengandalkan hujan sebagai satu-satunya sumber air, dari persiapan lahan bulan Desember hingga panen di bulan April. Setelah itu sawah dibiarkan kosong berbulan-bulan. Dan ada kalender laut: rajungan mencapai puncak tangkapan antara April dan Juni, ikan baronang ramai di bulan Agustus hingga Oktober, sementara ikan bandeng dan gamasi baru muncul menjelang akhir tahun. Begitu satu jenis tangkapan menyusut, warga berpindah mengikuti musim berikutnya — kebiasaan yang sudah mereka hafal luar kepala, diturunkan dari orang tua ke anak.

“Saya kelahiran 79, jadi sekarang saya berusia 45 tahun. Orang asli sini, bapak dan mama,” kata Ibu Mantasia. Suami dan anaknya melaut, seperti kebanyakan lelaki di kampung ini. Dari kalender musim itu jugalah ekonominya tumbuh: dia menjalani beberapa pekerjaan sekaligus dalam satu hari yang sama — pengepul kepiting, peracik teh kalli-kalli, pengolah bubuk kunyit, dan produsen sabun cuci piring bermerek Baji’ Minasa  Clean yang dijualnya berkeliling kampung setiap minggu.

Hasil tangkapan rajungan yang baru ditimbang, siap dikirim ke pengepul.

Modal usaha kepitingnya bukan dari kantong sendiri. Seorang laki-laki dari luar kampung, dikenal warga sebagai Pak Samsul, pernah datang mengajak mengumpulkan sepuluh orang jadi satu kelompok, memberi modal Rp 5 juta sampai Rp 10 juta per orang untuk membeli jaring. Ibu Mantasia masuk kelompok yang diberi nama Mama Maros.

Daging kepiting yang dia kumpulkan tidak berhenti di kampung. Ada yang mengupas dan mengolahnya lebih dulu, baru dikirim untuk diekspor. “Pemasukan stabil, alhamdulillah,” katanya.

Kunyitnya dibeli per karung dari petani setempat, bukan ditanam sendiri. “Di sini banyak kambing, banyak sapi,” katanya — alasan sederhana, sebab ternak tetangga akan lebih dulu menghabiskan tanaman itu sebelum sempat dipanen. Kunyit yang dibeli lalu dijemur 15 hari, diblender, dan dikirim ke anaknya di Kendari untuk dijual seharga Rp 15.000 per botol. Teh kalli-kallinya berbeda proses — dia mengambil sendiri daunnya dari pinggir empang, memanjat dan menggunting satu per satu karena berduri, mencucinya bersih, menjemurnya sampai dua puluh hari hingga rapuh, baru diblender dan dikemas.

“Semuanya dikerja langsung, pengepul hari-hari, teh dan Sunlight setiap minggu keliling di sini,” katanya — menyebut sabun cuci piringnya dengan nama generik “Sunlight”, meski label aslinya Baji’ Minasa Clean.

Dari empat usaha itu, pengepul kepiting dan penjualan sabun cuci piring yang paling menopang dapurnya. Tapi bukan berarti selalu lancar. Dia masih ingat betul bagaimana harga kepiting pernah jatuh ke titik tak seorang pun mau membeli selama dua bulan penuh, saat pandemi Covid-19 melanda.

Kepiting rajungan hasil tangkapan nelayan Kuri Caddi, dikumpulkan dalam satu wadah sebelum ditimbang

Ketika ditanya soal mangrove, jawaban Ibu Mantasia melampaui hitungan untung rugi usahanya sendiri. ““Penting mangrove dan jaga mangrove, tidak boleh ditebang karena ikan, kepiting di situ bertelur, dan hasil laut lainnya baru turun ke laut,” katanya. Bagi dia, logikanya sederhana: tidak ada bakau, tidak ada telur, tidak ada hasil laut, tidak ada yang bisa ditimbang setiap pagi. Harapannya untuk cucu-cucunya bukan kekayaan, melainkan sesuatu yang lebih mendasar — agar ombak yang selama ini ditahan akar bakau tidak pernah benar-benar sampai ke rumah mereka.

Kesibukan yang tumpang tindih itu bukan tanpa alasan. Data pengeluaran harian yang dikumpulkan Blue Forest bersama warga memperlihatkan kenapa Ibu Mantasia — dan banyak perempuan lain di Kuri Caddi — tidak bisa bergantung hanya pada satu sumber penghasilan. Di RT 1, rumah tangga nelayan kepiting rata-rata membutuhkan Rp 291.300 sehari untuk menghidupi lima anggota keluarga. Sebagian besar dari jumlah itu tersedot untuk cicilan kredit modal jaring dan bahan bakar melaut, sekitar Rp 65.000 setiap minggu. Sementara penghasilan dari kepiting sendiri naik turun tajam mengikuti musim: bisa mencapai Rp 700.000 hingga Rp 1,2 juta sehari saat musim puncak, tapi anjlok menjadi hanya Rp 200.000 di luar musim itu.

Di RT 2 dan RT 3, angkanya sedikit lebih rendah, sekitar Rp 180.000 hingga Rp 185.000 per hari, dengan pos pengeluaran terbesar yang sama: jajan anak, rokok, dan lauk-pauk yang terkadang sengaja dibeli meski hasil tangkapan sedang melimpah, sekadar supaya keluarga tidak bosan makan kepiting setiap hari.

Kekhawatiran serupa, dengan wajah berbeda. Ibu Firnah, 28 tahun, istri nelayan rajungan yang menikah tujuh tahun lalu. Rajungan berbeda dari kepiting bakau yang besar dan menetap di akar mangrove — dia hanya singgah ke hutan bakau untuk bertelur, sebelum kembali lagi ke laut lepas. Suaminya sudah melaut sejak umur lima belas, jauh sebelum mereka bertemu.

Perahu-perahu nelayan bersandar di perairan Kuri Caddi. (Foto : Ade Saskia Ramadani)

Jadwal suaminya tidak pernah bisa dipastikan. Kalau rajungan “belum datang” — begitu Ibu Firnah menyebutnya, seolah rajungan punya kehendak sendiri kapan mau muncul — dia bersih-bersih rumah dulu sambil menunggu. Ada hari yang bisa memberi penghasilan dua kali sekaligus, sore dan setelah Isya. Ada pula hari suaminya memilih libur satu-dua hari, entah karena badan yang capek atau karena umpan ikan bete-bete tidak tersedia di pasar. Umpan itu sendiri bukan gratis: Rp 14.000 per keranjang, dan tiga keranjang biasanya baru cukup untuk dua hari melaut.

Penghasilan dari rajungan pun tidak pernah stabil dari tahun ke tahun. Dua tahun lalu, harganya sempat jatuh ke Rp 15.000 per kilogram. Saat pandemi Covid-19, rajungan bahkan sama sekali tidak dibeli selama dua bulan penuh — memaksa sebagian warga banting setir jadi kuli bangunan, atau berkeliling naik motor menjual hasil tangkapan ke pulau-pulau.

Di tengah ketidakpastian itu, satu hal yang hilang duluan justru bukan soal harga: empang. “Sudah tidak ada empang di sini, semua sudah dijual dan pindah ke luar,” kata Ibu Firnah — kalimat pendek yang menggemakan apa yang sudah tercatat dalam data transek: lahan yang berpindah tangan, sedikit demi sedikit, ke luar kampung.

“Khawatir sekali kalau ombak besar di musim barat,” katanya, mengingat malam-malam menunggu di belakang rumah. Desember lalu, anginnya sangat kencang. Saat ombak tinggi seperti itu, para nelayan menyembunyikan perahu mereka di sela-sela akar bakau — satu-satunya tempat yang mereka percaya aman dari gelombang. “Kalau di sini air naik dihantam gelombang. Tapi kalau di hutan bakau, aman,” ujarnya.

Generasi yang lebih tua, seperti Ibu Nawi, mulai merasa waktu mereka menyusuri empang sudah hampir habis. “Tidak bisa ma, tua ma, anak-anak muda yang harus lanjutkan,” katanya, setengah bergurau, ketika disinggung siapa yang akan meneruskan kerja memetik kalli-kalli.

Kesadaran akan pentingnya mangrove di Kuri Caddi tidak pernah benar-benar hilang. Selama puluhan tahun, hutan bakau bekerja diam-diam — menahan ombak yang menghantam dermaga, menjaga telur kepiting dan rajungan yang menghidupi ratusan keluarga, menyediakan daun yang diolah jadi teh, dan kerupuk.

Sore itu, Ibu Nawi masih duduk di kolong rumahnya, memandang laut di kejauhan — menunggu entah siapa yang akan datang berikutnya.

Referensi

Blue Forest. Profil Sumber Daya Dusun Kuri Caddi: Menggunakan Pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA).

Mengenal Keanekaragaman Mangrove dan Peranannya. Materi dalam Journalists Training International Mangrove Day 2026, Makassar, 20 Juli 2026.

Mangrove Indonesia: Dari Kebijakan ke Cerita Lapangan. Materi dalam Journalists Training International Mangrove Day 2026, Makassar, 20 Juli 2026.